Seorang teman bercerita, kalau teman halaqohnya sedang menghafal Al Quran dia akan setoran hafalan 15 jus ke PP Darut Tauhid, kepunyaan ust. AA Gym karena biasanya dia sering dauroh quran disana...
Saat hafalan, qodarulloh hanya 7 jus yg bisa disetor. Padahal sebelumnya berkali-kali murojaah beliau hafal sampai dengan jus 15.
Sang ustadzah menenangkannya dan bilang, coba lagi besok mungkin kamu lelah kamu bisa istirahat dulu,begitu terus sampai hari ke 5 kalo saya tidak salah dengar. Yang bisa keluar dari lisannya hanya sampai dengan jus 15 saja. Beliau stres, sangat shock kenapa hafalanku yang sebelumnya lancar tapi kok tidak bisa disetorkan.
Sang ustadzah lalu hanya bilang pada akhwat tersebut pada hari ke 5, "kamu bisa pulang dulu, dan koreksi apa niatmu dulu ketika menghafal alquran!" sudah begitu saja pesannya sampai si akhwat pulang lg ke rumahnya. Pada teman kami, beliau bercerita memang niatnya beliau hanya pengen hafal AlQuran saja, ingin membuktikan pada dirinya bahwa dia bisa. Sebagai eksistensi pada dirinya sendiri. Bukan karena Allah.
Anak saya dulu sy sekolahkan di sekolah tahfidz sore @rutaba.daffa , dengan niat utama karena jam kerja saya yang sekarang 5 hari kerja, sampai sore. sedang untuk mencari ART ibu saya tidak memperkenankan, jika saya titipkan kedua anak saya ke ibu saya, sy takut ibu saya kecapekan, kelelahan. Jika saya mencari ART, sudah pasti ibu saya tidak mengijinkan. Jadilah sekolah sampai sore adalah pilihan. Minimal anak saya terarah dan bisa dekat dengan Al Quran. Tapi ternyata saya salah, prioritas utama saya bukan agar anak saya dekat dengan AlQuran dulu, tapi agar anak saya "terjaga" ketika saya bekerja. Hal itu bru saya sadari belakangan, ketika hampir 3 bulan anak saya perang tarik2an dengan ustadzahnya setiap hari ke sekolah sambil teriak dan berontak. Saya berkali-kali sudah menghadap ke kepala sekolah, dan bilang saya menyerah. Mungkin belum sekarang anak saya memulai hafalan. Sampai suatu ketika ada, pada halaqoh saya membahas tentang niat. Kalau ada sesuatu yang kejadian yang tidak sesuai dengan keinginanmu, koreksi niatmu. Karena setiap amalan tergantung niat, dan kamu akan mendapat sesuai yang kamu niatkan. Kalau niatmu atas segala sesuatu ridho Allah, insyaallah akan memberi lebih, insyallah Allah akan memberi kebaikan lebih dari yang kita niatkan. Degg, sampai disitu saya tertegun. Ah, niat saya keliru. Niat saya keliru, saya tidak ingin anak saya dekat dengan Al quran. Niat saya bukan karena Allah :(.
Ah, saya malu sejujurnya. Pada beberapa hal yg saya bilang ibadah mungkin niat saya masih ambigu parah. Pada sedekah yang mungkin masih berbalur riya.Pada amal yang masih terselubung jumawa. Pada sholat yang hanya penggugur wajib saja.
Duh Gusti Illahi Robbi, terus ingatkan kami..agar senantiasa memperbaiki niat kami. Agar selalu mengoreksi tujuan kami. Hanya karenaMu bukan karena makhlukMu atau alasan-alasan duniawi saja.
agar hadits "Innamal a'maalu bin niyaah" tak sekedar kami hafalkan di lisan. Aamiin
0 komentar:
Posting Komentar